Akademi Jurnalisme Dorong Pemberitaan Ekonomi dari Perspektif Lingkungan

Traction Energy Asia bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membuka program Akademi Jurnalisme Ekonomi dan Lingkungan pada 26 Oktober 2021. Akademi ini merupakan akademi pertama di Indonesia yang fokus untuk meningkatkan kemampuan jurnalis nasional atau lokal dalam mengintegrasikan topik ekonomi ke dalam isu-isu lingkungan dan sebaliknya. Tommy Pratama (Direktur Eksekutif Traction Energy Asia), Ika Ningtyas (Sekretaris Jenderal AJI), para fasilitator dari AJI, dan 20 peserta akademi menghadiri acara pembukaan ini.

Tommy Pratama dalam sambutannya menjelaskan mengenai tujuan pembentukan program Akademi Jurnalisme Ekonomi dan Lingkungan ini. “Kami bersama dengan para ahli dari berbagai bidang turut mendesain akademi ini secara komprehensif. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan dan menyediakan instrumen bagi rekan-rekan jurnalis dalam meliput isu lingkungan di dalam perspektif ekonomi, juga agar bisa melihat dampak kebijakan pembangunan di Indonesia terhadap aspek lingkungan dan ekonominya.”

Para ahli yang turut menyusun kurikulum untuk akademi ini termasuk Prof. Damayanti Buchori dari Institut Pertanian Bogor sebagai ahli lingkungan, Dr. Alin Halimatussadiah dari Universitas Indonesia sebagai ahli ekonomi lingkungan, dan Mardiyah Chamim sebagai seorang jurnalis senior. Kurikulum akademi ini meliputi lokakarya, beasiswa, pendampingan, dan publikasi karya. Rangkaian kegiatan akan dilaksanakan secara daring dalam 18 sesi dan secara luring dalam dua sesi dari Oktober 2021 hingga akhir November 2021.

Seluruh partisipan dalam pembukaan program Akademi Jurnalisme Ekonomi dan Lingkungan pada 26 Oktober 2021.

Pelaksanaan Akademi Jurnalisme Ekonomi dan Lingkungan pun diharapkan dapat membentuk dan menanamkan perspektif lingkungan kepada rekan-rekan jurnalis dari meja redaksi ekonomi. “Perspektif ini akan berdampak terhadap peliputan rekan-rekan jurnalis agar lebih kritis terhadap kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun mengenai proyek-proyek ekonomi yang didanai oleh para investor,” tambah Ika Ningtyas.

Informasi dan pengetahuan yang menyelaraskan antara isu ekonomi dengan lingkungan memang perlu masuk ke dalam agenda media komunikasi massa. Pasalnya, media massa memainkan peran penting untuk melibatkan publik dengan informasinya untuk mengawal kebijakan pembangunan ekonomi yang berperspektif lingkungan. Maka, jurnalis ekonomi yang kerap bersinggungan dengan isu ekonomi makro juga perlu memiliki perspektif lingkungan untuk dapat melihat secara keseluruhan relasi antara sektor lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Sayangnya, hasil pemindaian cepat AJI membuktikan bahwa pemberitaan ekonomi di media massa selama tiga bulan terakhir masih didominasi dengan narasi yang mendukung dari aspek fiskal, moneter, dan pertumbuhan ekonomi saja. Pemberitaan ekonomi ini masih kurang memiliki perspektif lingkungan dan sosial serta masih didominasi oleh sudut pandang dan narasumber dari kalangan pemerintah, pengusaha, dan pengamat, baik pro maupun kontra

Padahal, ancaman pemanasan global terus menghantui. Kenaikan suhu global sebesar 1,1 derajat Celsius di atas kondisi praindustri telah menyebabkan banjir dan kebakaran hutan, di samping berbagai dampak lainnya. Proyek-proyek pembangunan yang abai akan lingkungan dan keberlanjutan semakin mendekatkan kita ke kondisi peningkatan suhu sebesar 1,5 derajat Celsius. Sebagai salah satu pilar demokrasi, media massa di Indonesia mengemban tugas berat untuk mengangkat suara-suara mereka yang termarjinalisasi, termasuk kelompok-kelompok masyarakat yang akan memperoleh dampak dari proyek-proyek ekonomi tersebut.

Harapannya, penyelenggaraan kegiatan akademi ini dapat meningkatkan kapasitas pemberitaan isu ekonomi dan lingkungan bagi para peserta jurnalis untuk dapat meningkatkan kapasitasnya. Dalam jangka yang lebih panjang, kapasitas untuk meliput pemberitaan pembangunan dan ekonomi yang juga mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan turut mendukung para jurnalis dalam mengawal Pemerintah Indonesia untuk mencapai target nasional penurunan emisi gas rumah kaca, yakni sebesar 29% pada tahun 2030.