Berkah Jelantah Bagi Ekonomi Rumah Tangga

Sejak akhir tahun 2018, Chevie Mawarti, pendiri Arnetta Craft, iseng-iseng membuat kreasi dari minyak jelantah. Beliau pun menekuni pembuatan kreasi dari minyak jelantah itu di awal 2019. Dari tangannya telah lahir beragam kreasi: sabun, lilin, serta scented wax. Ketiganya–dibuat dari minyak jelantah–beliau jual dalam bentuk paket bingkisan atau hampers.

Berbagai kreasi Chevie Mawarti. © Annisa Sekar Sari/Traction Energy Asia.

“Minyak jelantah memiliki nilai jual asal dipoles cantik. Memanfaatkan minyak jelantah juga sekaligus bisa mengurangi limbah rumah tangga yang biasa dibuang di saluran-saluran air. Ini sebuah cara untuk berperan menjaga lingkungan rumah kita,” ujar finalis Ibu Ibukota Awards tahun 2019 ini. Beliau juga menekankan pentingnya pengolahan minyak jelantah yang baik oleh lebih banyak orang. “Makin banyak yang mengolah minyak jelantah, artinya semakin besar manfaatnya bagi lingkungan.”

Berbekal kepercayaan tersebut, Ibu Chevie kerap memberikan pelatihan-pelatihan pengolahan minyak jelantah kepada para ibu rumah tangga, ibu-ibu anggota pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), tahanan di lapas wanita Pondok Bambu, anak yatim piatu, serta penyandang disabilitas. Di Maret 2022, bersama dengan Traction Energy Asia, Ibu Chevie telah memberikan pelatihan kepada 23 orang ibu rumah tangga di Petamburan dan 21 orang ibu rumah tangga di Kapuk Muara. Kegiatan di Petamburan berlangsung pada 24 Maret 2022, sementara ibu-ibu warga Kapuk Muara menerima pelatihan tersebut pada 31 Maret 2022. Sebanyak total 44 ibu rumah tangga telah memperoleh pengetahuan baru tentang cara membuat sabun cuci, lilin, dan scented wax. Di samping itu, mereka juga berkesempatan untuk mengetahui cara membersihkan minyak jelantah sebelum diolah.

Kegiatan pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi berbagai kerajinan tangan di Kapuk Muara. © Annisa Sekar Sari/Traction Energy Asia.

 

Traction Energy Asia mengadakan pelatihan ini sebagai salah satu upaya mengajak masyarakat untuk mengumpulkan minyak jelantahnya dengan menunjukkan potensi ekonomi limbah ini. Selain itu, mengumpulkan minyak jelantah ketimbang menggunakannya berkali-kali juga berguna untuk mencegah konsumsi minyak jelantah yang bisa meningkatkan risiko penyakit-penyakit seperti hipertensi, kanker, stroke, dan gangguan ginjal.

Ira Kusuma Dewi, salah seorang warga yang mengikuti pelatihan pengolahan minyak jelantah di Petamburan, menunjukkan antusiasmenya dalam mengikuti pelatihan tersebut. “Ternyata minyak jelantah punya banyak manfaat ekonomi, ya? Saya jadi tertarik untuk membuat lebih lanjut.” Ibu Ira berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka pengetahuan untuk mengolah minyak jelantah menjadi banyak kreasi menginspirasi jiwa kewiraswastaannya.

Di sisi lain, Een Sunarsih yang kerap disapa Ibu Een juga mewakili para peserta dari Kapuk Muara dalam menyatakan semangat mereka. “Pada Mei tahun lalu, daerah rumah kami kebakaran. Sejak saat itu, ibu-ibu di sini jadi kehilangan semangat, ditambah lagi, pekerjaan juga sulit akibat pandemi. Ini pertama kalinya ada kegiatan di sini lagi setelah peristiwa tersebut. Ibu-ibu punya pilihan kegiatan baru untuk mengolah minyak jelantah yang ada di dekat mereka,” ujar Ibu Een di rumahnya yang baru selesai direnovasi pasca-kebakaran pada November 2021. Sebagai pekerja rumahan yang bertugas mengelem sendal bagi pabrik produsen sendal, beliau terkena dampak pandemi.

Ibu Ira sebagai salah satu peserta kegiatan dari Petamburan (kiri) dan Ibu Een mewakili para partisipan Kapuk Muara (kanan). © Annisa Sekar Sari/Traction Energy Asia.

Kreasi pengolahan minyak jelantah menginspirasi rumah tangga untuk mengumpulkan limbah minyak bekas memasak yang biasanya mereka buang ini. Pengumpulan minyak jelantah menjadi penting sebab rumah tangga juga menyumbang banyak minyak jelantah yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi. Studi Traction Energy Asia terbaru mengkaji potensi ketersediaan dan model pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga dan usaha mikro untuk bahan baku biodiesel di lima kota Pulau Jawa dan Bali, yakni Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, dan Denpasar. Kajian Traction Energy Asia mengestimasi timbulan minyak jelantah dari rumah-rumah tangga dan unit usaha mikro di kota-kota besar di Indonesia sebesar 1,2 juta kiloliter.

Fariz Panghegar selaku Manajer Riset Traction Energy Asia membenarkan potensi minyak jelantah ini. “Minyak jelantah, apabila dimanfaatkan dengan optimal, akan mampu memberikan dampak ekonomi yang positif. Sebab, bahan ini mudah didapatkan dengan harga murah bahkan cuma-cuma. Artinya, minyak jelantah berpotensi memberikan keuntungan berlipat baik di segi ekonomi, maupun lingkungan, energi, serta kesehatan,” ujar Fariz.

Minyak jelantah mampu memberikan manfaat ekonomi mikro dengan menjadi sebuah pilihan bisnis bagi masyarakat. Selain itu, minyak jelantah jika dikumpulkan untuk program bahan bakar nabati atau biodiesel juga berpotensi untuk memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar selain menjadi bahan baku kreasi tangan.

Pertama, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku komplementer biodiesel akan membuat pemerintah memiliki pilihan alternatif tambahan bahan baku untuk pengadaan biodiesel yang harganya lebih murah dan lebih stabil daripada harga crude palm oil (CPO) yang fluktuatif mengikuti harga pasaran internasional. Tren harga indeks pasar (HIP) biodiesel dari minyak kelapa sawit umumnya lebih tinggi dari HIP solar yang mendorong adanya potensi beban subsidi yang tinggi untuk menghadirkan bahan bakar biodiesel. Sementara itu, minyak jelantah merupakan komoditas yang nilainya tidak tergantung pada harga di pasar internasional. Pemerintah dapat menetapkan harga tetap (fixed price) minyak jelantah untuk bahan baku biodiesel. Jika minyak jelantah ditetapkan sebagai bahan baku biodiesel, pemerintah memiliki pasokan bahan baku biodiesel yang harganya stabil dan tidak dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas di pasar internasional. Traction Energy Asia memperkirakan potensi penghematan anggaran pengadaan bahan bakar nabati nasional, di mana 10% dari bahan baku biodiesel dari minyak kelapa sawit biasa diganti dengan minyak jelantah, akan menjadi Rp 4 triliun.

Kedua, pemanfaatan minyak jelantah untuk bahan baku biodiesel dapat menjadi contoh konkret ekonomi sirkular yang efisien dan multimanfaat. Sektor rumah tangga serta sektor usaha hotel, restoran, dan kafe dapat terlibat sebagai pemasok minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel. Dengan kebijakan insentif yang tepat, sektor-sektor tersebut dapat menikmati tambahan pendapatan sebagai pemasok minyak jelantah.

Banyak manfaat dari mengumpulkan minyak jelantah yang tidak bisa diabaikan lagi. Selain mengurangi risiko pencemaran air dari pembuangan minyak jelantah dan mengurangi risiko kesehatan, mengumpulkan minyak jelantah juga dapat membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat dan bisnis yang mengumpulkannya serta membantu mengurangi risiko deforestasi dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai bahan baku alternatif biodiesel.